PESAN KANJENG SUNAN KALI JAGA
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh panganten anyar 2 x
Cah angon – cah angon
Panekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu panekno
Kanggo mbasuh dodotiro 2 x
Dodotiro – dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomana jlumatana
Konggo seba mangko sore 2 x
Mumpung padang rembulane
Mumpung padang kalangane
Yo suraka, surak hiyo
Memaknai Tembang Lir-ilir
Hawa sejuk terasa dari angin yang sepoi-sepoi basah
Duduk santai sambil menikmati udara segar
Karena di depan mata terlihat tanaman padi mulai bersemi
Mulai bangun dari tidurnya
Terlihat hijau ranau bagaikan pengantin baru yang sedang menikmati bulan madu
Wahai anak gembala
Ambilkan aku buah belimbing
Walau pohonnya licin, tolong ambilkan
Sebab buah belimbing itu untuk mencuci pakaianmu sendiri
Lihatlah bajumu mulai robek di pinggir-pinggirnya
Jahitlah dan rapikan
Sebab nanti malam ada pesta
Mumpung malam terang bulan
Dan tempat pestanya cukup untuk banyak orang
Maka bergembiralah kamu dan bersenang-senanglah
***
Lagu ini mengisahkan tentang perkembangan Islam pada waktu itu, dimana masyarakat jawa mulai banyak yang memeluk agama Islam dan juga raja-raja jawa yang diibaratkan seperti pengantin baru yang sedang menikmati bulan madu. Sunan Kali Jaga ingin berpesan melalui lagu ini bahwa menyebarkan agama Islam tidaklah mudah. Butuh ketekunan serta kesabaran dan keberanian luar biasa agar Agama Islam bisa diterima dengan baik oleh masyarakat yang digambarkan melalui baitnya “Anak embala
atau cah angon“. Anak gembala diibaratkan sebagai orang yang mampu menjadi imam yang baik bagi makmumnya yang mengajarkan syariat Islam. Syariat itu terdiri dari lima ajaran Islam. Buah belimbing mempunyai lima sisi sebagai gambaran rukun Islam yang lima. Selagi masih ada kesempatan dan waktu yang masih tersisa, manusia-manusia yang bersih hatinya karena baru mengenal ajaran Islam diminta memperbaiki akhlaknya atau menjahit bajunya yang robek-robek. Yaitu pakaian ketakwaan kepada yang maha Esa.
Kelak ketika hari akhir telah tiba, manusia-manusia yang sudah berpakaian ketakwaan akan bersorak sorai menuju ridha Ilahi, karena telah siap bertemu dengan sang pencipta.
Lagu lir-ilir memberikan kita pelajaran, hendaknya manusia menyadari bahwa hidup di dunia ini tidak lama, seperti pohon padi. Sejatinya kita harus bangun (lir-ilir; ngelilir) seperti padi yg baru ditanam, tumbuh, menjadi besar, berbuah dan dipanen. Mempelajari syari’at dan menjalankan rukun Islam yang lima supaya tidak sesat dan terjerumus kedalam ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran agama. “…mumpung padhang rembulané, mumpung jembar kalangané.
yo surako surak hiyo.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar