Wasiat Pertama Syekh Abdul Muhyi Pamijahan
" Hendaklah kalian bertakwa kepada Alloh "
Arti Takwa menurut para Sholihin,
Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata :
Takwa adalah (keadaan dimana) Allah subhanahu wa ta’ala ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri (kenikmatan-Nya) dan tidak diingkari.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata :
Beliau ditanya tentang takwa (taqwa), maka beliau menjawab, “Apakah kamu pernah menginjak jalan yang berduri?”
“Ya,” jawab penanya.
“Lalu apa yang kamu lakukan?” tanya Abu Hurairah.
Dia berkata, “Jika aku melihat duri maka aku menghindarinya, atau aku lewati atau aku memagarinya.”
Abu Hurairah berkata, “Itulah takwa.”
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata :
Orang yang bertakwa adalah orang-orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan siksa-Nya ketika ia meninggalkan petunjuk yang diketahui, serta mengharap rahmat-Nya ketika membenarkan wahyu yang Dia turunkan.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahumullah berkata :
Takwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari, shalat malam, dan menggabungkan dua amalan ini. Namun takwa adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menunaikan kewajiban-Nya. Barang siapa yang diberi karunia kebaikan setelahnya, itu adalah kebaikan di atas kebaikan.
(Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, hlm. 244—245)
===================================================================
masih wasiat pertama Syekh Abdul Muhyi Pamijahan "takwa"
Takwa adalah perintah Alloh swt dan anjuran Rasululloh saw
Firman Alloh :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS.Ali Imron : 102)
Sabda Rosul :
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Alloh dimana saja kamu berada, barengilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “
(HR. Imam Ahmad dan Imam Turmudzi)
===================================================================
Wasiat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang ke-2
berbaktilah kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkanmu,
BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DALAM AL-QUR'AN & AL-HADITS
Gusti Alloh swt berfirman :
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isro : 23)
Kanjeng Nabi Muhammad saw bersabda:
سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّالْوَالِدَيْنِ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’
Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)
==========================================================================
Wasiat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang ketiga
“hormati dan muliakanlah tamumu”
Sesuai dengan Hadits Kanjeng Nabi Muhammad saw :
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Dan siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”[HR. Bukhari dan Muslim]
====================================================================
Wasiat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang keempat
“bicaralah dengan benar”
Sebagaimana Sabda Nabi saw :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik (benar) atau diam” [HR. Bukhari dan Muslim]
====================================================================
Wasiat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang kelima
“senangkanlah orang lain dan janganlah kamu menyusahkan orang lain”
Sesuai dengan Sabda Rosul saw :
يسِّروا ولا تعسِّروا، وبشِّروا ولا تنفِّروا
Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah mereka dan jangan membuat mereka lari.” (HR. Bukhori -Muslim)
====================================================================
Wasiat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan
yang keenam = kasihanilah orang yang kecil
yang ketujuh = hormati orang yang besar
yang kedelapan = hargailah sesamamu,
sesuai dengan pesan Nabi Muhammad saw :
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan umat kami.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab, lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 271)
====================================================================
Wasiat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang kesembilan
“Harus hati-hati atau Waro’ ”
Sebagaimana Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad saw :
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
(رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir –semoga Alloh meridlainya- beliau berkata: Saya mendengar Rosululloh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, di antara keduanya terdapat perkara yang samar (subhat) tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang waro’ atau menghindari syubuhat maka ia membersihkan Agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang masuk ke dalam syubuhat maka ia (hampir) masuk ke dalam haram, bagaikan penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar himaa (wilayah yang dilindungi), hampir-hampir saja ternak itu makan di tempat yang dilindungi tersebut. Ingatlah, sesungguhnya setiap raja memiliki wilayah khusus yang dilindungi, ingatlah bahwa wilayah khusus yang dilindungi bagi Alloh adalah keharamannya. Ingatlah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa (segumpal daging) itu adalah hati (HR Imam Bukhori dan Imam Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar