Rujuk Kepada Ulama adalah Jalan Keluar dari Fitnah
Dugaan Penistaan Al-Qur'an, kemudian diikuti aksi damai 4 Nov kemarin, masih tetap menjadi viral dan hotnews di negeri kita.
Campur aduk keadaan yang berujung saling caci dan menghina terus berjalan, tak soal sesama saudara, bila berbeda pendapat bisa dijadikan musuh.
Tak ayal bermunculan para komentator dadakan dan pengamat agama yang belum mahir dibidangnya memberikan pendapat dan fatwa tentang Al-Qur'an yang terkesan "ngasal" mengikuti hawa nafsunya, jauh dari kebenaran sesungguhnya.
Saudara-saudariku,
Logika sederhana tidak bisa dipungkiri, Dalam ilmu pertanian dan bercocok tanam tentu sarjana pertanian lebih ahli dalam bidangnya dibanding sarjana hukum, dan sarjana hukum tentu lebih menguasai ilmu hukum dibanding sarjana pertanian, karena setiap cabang ilmu mempunyai poksi masing-masing.
Dan yang lebih mengetahui cabang ilmu agama adalah ulama,bukan sembarang orang bisa mengakui dirinya sebagai ulama, sedangkan kesehariannya jauh dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Yang Islam maksudkan adalah Ulama yang sholeh, yang benar-benar bertakwa, teguh pendiriannya, bukan ulama' Suu' (ulama yang buruk) karena ulama yang sholeh merekalah yang mendapatkan pujian sesuai dalam firman Allah:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).
Saudara-saudariku,
Setiap hari kita menghadapi bermacam-macam fitnah,
Dalam menghadapi fitnah-fitnah yang ada, Ahlus Sunnah wal Jamaah telah memberikan tuntunan berupa sikap yang bijaksana sehingga dapat menghalau fitnah-fitnah itu atau meminimalkannya. Di antara sikap yang sangat penting dalam hal ini adalah merujuk kepada para ulama, meminta bimbingan dan pengarahan mereka dalam menghadapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar